1.
Ruang Lingkup Ekonomi Teknik
Ekonomi Teknik (Engineering Economics)
mencakup prinsip-prinsip dan berbagai teknis matematis untuk pengambilan
keputusan ekonomis. Dengan teknik-teknik ini, suatu pendekatan yang rasional
untuk mengevaluasi aspek-aspek ekonomis dari alternatif-alternatif yang berbeda
dapat dikembangkan. Secara kasar dapat disebutkan bahwa penggunaan terbesar
ekonomi teknik adalah evaluasi beberapa alternatif untuk menetukan suatu
aktivitas atau investasi paling sedikit memberikan kerugian (Least Costly) atau
yang memberikan keuntungan paling banyak (Most Profitable).
Studi ekonomi teknik membantu dalam mengambil
keputusan optimal untuk menjamin penggunaan dana (uang) dengan efisien. Studi
ekonomi teknik harus diadakan sebelum setiap uang akan diinvestasikan/dibelanjakan
atau sebelum komitmen-komitemen diadakan. Studi ekonomi teknik dimulai dari
sekarang (now). Kesimpulan-kesimpulannya bergantung pada prediksi
kejadian-kejadian (event) yang akan datang.
Studi-studi ekonomi teknik membutuhkan waktu
untuk perhitungan-perhitungan yang cermat. Meskipun studi-studi sistematis ini
bukan suatu instrumen kecermatan/keseksamaan (precission), melibatkan banyak
faktor, perlu berdasarkan estimasi biaya-biaya dan pendapatan-pendapatan yang
akan menjadi sasaran kesalahan (error), kemungkinan untuk memperoleh jawaban
yang benar dalam membandingkan alternatif-alternatif peralatan akan jauh lebih
besar dengan estimasi-estimasi rinci daripada keputusan-keputusan yang akan
diambil atas dasar pengalaman atau intuisi seseorang. Bisnis yang sehat akan
mendasarkan pada keputusan-keputusan yang sudah diperhitungkan dengan cermat.
Oleh sebab itu, untuk keputusan-keputusan manajemen, faktor pengalaman dan
pertimbangan saja ada.
2.
Proposal Teknik dan Hubungannya Dengan
Ekonomi Teknik
Kegiatan teknik
adalah suatu konsep kegiatan manusia yang berorientasi pada proses
perbaikan/perubahan sifat maupun bentuk dari benda-benda alam dalam rangka
mendapatkan manfaat yang lebih baik dari sebelumnya. Bagaimana manusia mengubah
sifat dan fungsi batu-batuan menjadi bangunan, mengubah pasir besi menjadi besi
dan baja, mengubah kayu menjadi mobiler atau menjadi kertas, dan sebagainya,
yang semuanya merupakan hasil perancangan teknik yang dilakukan secara
berkesinambungan.
Suatu aktifitas teknik akan selalu berawal dengan munculnya ide-ide rancangan teknik yang ingin diterapkan dalam rangka mengatasi keterbatasan-keterbatasan sumber daya alam guna memenuhi berbagai kebutuhan manusia. Manusia ingin mereka bisa hidup dengan aman dan nyaman tanpa banyak mendapat gangguan lingkungan, maka dirancang bangunan sedemikian rupa. Manusia ingin dapat bergerak dan berpindah tempat dari suatu daerah ke daerah lain, maka manusia merancang kendaraan. Manusia membutuhkan berbagai peralatan untuk dapat meringankan berbagai tugas pekerjaannya, maka dirancang peralatan untuk tujuan tersebut.
Pada awalnya para perancang teknik masih lebih banyak menfokuskan rancangannya tersebut dapat dilaksanakan secara teknis, tanpa begitu memerhatikan aspek efisiensi pemakaian sumber daya. Hal ini dimungkinkan karena sumber daya yang dibutuhkan masih relatif banyak (murah). Namun, dengan semakin terbatasnya sumber daya alam dan semakin mahalnya biaya yang harus dikeluarkan untuk mendapat sumber-sumber daya alam tersebut, semua perancang teknik (engineer) dituntut untuk dapat menghasilkan rancangan-rancangan yang lebih efektif dan efisien. Tuntutan tersebut akan lebih nyata lagi jika hasil rancangan tersebut ditujukan sebagai bagian dari kegiatan ekonomi perusahaan, di mana semakin tingginya tingkat kompetisi usaha, menuntut setiap pengusaha dapat menghasilkan produk yang berkualitas baik dengan harga yang kompetitif, artinya setiap produk yang dibuat harus dikerjakan secara efektif dan efisien.
Dalam rangka menjamin dihasilkannya produk-produk engineering yang efektif dan efisien serta kompetitif tersebut, maka proses rancangannya perlu dilakukan secara baik, sistematis, dan terukur. Adapun prosedur rancangan yang baik dan sistematis tersebut dapat dijelaskan dengan flow-chart
Suatu aktifitas teknik akan selalu berawal dengan munculnya ide-ide rancangan teknik yang ingin diterapkan dalam rangka mengatasi keterbatasan-keterbatasan sumber daya alam guna memenuhi berbagai kebutuhan manusia. Manusia ingin mereka bisa hidup dengan aman dan nyaman tanpa banyak mendapat gangguan lingkungan, maka dirancang bangunan sedemikian rupa. Manusia ingin dapat bergerak dan berpindah tempat dari suatu daerah ke daerah lain, maka manusia merancang kendaraan. Manusia membutuhkan berbagai peralatan untuk dapat meringankan berbagai tugas pekerjaannya, maka dirancang peralatan untuk tujuan tersebut.
Pada awalnya para perancang teknik masih lebih banyak menfokuskan rancangannya tersebut dapat dilaksanakan secara teknis, tanpa begitu memerhatikan aspek efisiensi pemakaian sumber daya. Hal ini dimungkinkan karena sumber daya yang dibutuhkan masih relatif banyak (murah). Namun, dengan semakin terbatasnya sumber daya alam dan semakin mahalnya biaya yang harus dikeluarkan untuk mendapat sumber-sumber daya alam tersebut, semua perancang teknik (engineer) dituntut untuk dapat menghasilkan rancangan-rancangan yang lebih efektif dan efisien. Tuntutan tersebut akan lebih nyata lagi jika hasil rancangan tersebut ditujukan sebagai bagian dari kegiatan ekonomi perusahaan, di mana semakin tingginya tingkat kompetisi usaha, menuntut setiap pengusaha dapat menghasilkan produk yang berkualitas baik dengan harga yang kompetitif, artinya setiap produk yang dibuat harus dikerjakan secara efektif dan efisien.
Dalam rangka menjamin dihasilkannya produk-produk engineering yang efektif dan efisien serta kompetitif tersebut, maka proses rancangannya perlu dilakukan secara baik, sistematis, dan terukur. Adapun prosedur rancangan yang baik dan sistematis tersebut dapat dijelaskan dengan flow-chart
Diawali dengan
munculnya ide/konsep teknik, mungkin berupa ide baru ataupun penyempurnaan dari
ide atau rancangan yang ada yang mencakup tentang produk ataupun proses
pengerjaan produk. Ide-ide tersebut tentu perlu dilahirkan secara sistematis
dan tertulis melalui penjelasan-penjelasan, gambar-gambar,
spesifikasi-spesifikasi, dan penjelasan teknis lainnya yang disebut dengan
proposal teknis.
Selanjutnya proposal teknis tersebut perlu dievaluasi kelayakan teknisnya sebelum dilaksanakan/direalisasikan. Artinya apakah rancangan tersebut memungkinkan secara teknis untuk direalisasikan, apakah sudah tersedia teknologinya beserta tenaga ahlinya. Jika belum memungkinkan, ada baiknya rancangan tersebut diperbaiki kembali atau dihentikan saja.
Jika secara teknologi dan teknis tidak ada masalah/layak, dilanjutkan dengan penyusunan proposal ekonomis untuk mengetahui seberapa besar biaya yang diperlukan untuk merealisasikan rancangan tersebut, apakah rancangan tersebut sudah ekonomis atau belum serta dari mana sumber-sumber dana yang diperlukan akan diperoleh, seberapa besar beban untuk memperoleh sumber-sumber biaya tersebut dan sebagainya. Kalau rancangan ini bertujuan sebagai kegiatan usaha bisnis, tentu perlu dikaitkan dengan seberapa kompetitif produk tersebut dengan produk pesaingnya sehingga rancangan ini menjadi layak direalisasikan.
Selanjutnya proposal teknis tersebut perlu dievaluasi kelayakan teknisnya sebelum dilaksanakan/direalisasikan. Artinya apakah rancangan tersebut memungkinkan secara teknis untuk direalisasikan, apakah sudah tersedia teknologinya beserta tenaga ahlinya. Jika belum memungkinkan, ada baiknya rancangan tersebut diperbaiki kembali atau dihentikan saja.
Jika secara teknologi dan teknis tidak ada masalah/layak, dilanjutkan dengan penyusunan proposal ekonomis untuk mengetahui seberapa besar biaya yang diperlukan untuk merealisasikan rancangan tersebut, apakah rancangan tersebut sudah ekonomis atau belum serta dari mana sumber-sumber dana yang diperlukan akan diperoleh, seberapa besar beban untuk memperoleh sumber-sumber biaya tersebut dan sebagainya. Kalau rancangan ini bertujuan sebagai kegiatan usaha bisnis, tentu perlu dikaitkan dengan seberapa kompetitif produk tersebut dengan produk pesaingnya sehingga rancangan ini menjadi layak direalisasikan.
Jika proposal
ekonomis tidak layak, kemungkinan proposal diperbaiki kembali atau dihentikan
saja. Namun, jika proposal ekonomis terbukti layak, barulah rencana teknik
tersebut dapat dilaksanakan/direalisasikan.
Untuk melakukan evaluasi ekonomis terhadap rancangan teknik di atas dibutuhkan pengetahuan pendukung ekonomi teknik (Economic Engineering). Oleh karena itu, Ekonomi Teknik adalah suatu ilmu pengetahuan yang berorientasi pada pengungkapan dan perhitungan nilai-nilai ekonomis yang terkandung dalam suatu rencana kegiatan teknik (engineering).
Karena penerapan kegiatan teknik pada umumnya memerlukan investasi yang relatif besar dan berdampak jangka panjang terhadap aktivitas pengikutnya, penerapan aktivitas teknik tersebut menuntut adanya keputusan-keputusan strategis yang memerlukan pertimbangan-pertimbangan teknik maupun ekonomis yang baik dan rasional. Oleh karena itu, Ilmu Ekonomi Teknik sering juga dianggap sebagai sarana pendukung keputusan (Decision Making Support).
Keputusan yang baik dan rasional pada dasarnya memerlukan prosedur dan proses yang sistematis serta terukur dengan tahapan proses sebagai berikut :
1. Mengidentifikasi atau
memahami persoalan dengan baik;Untuk melakukan evaluasi ekonomis terhadap rancangan teknik di atas dibutuhkan pengetahuan pendukung ekonomi teknik (Economic Engineering). Oleh karena itu, Ekonomi Teknik adalah suatu ilmu pengetahuan yang berorientasi pada pengungkapan dan perhitungan nilai-nilai ekonomis yang terkandung dalam suatu rencana kegiatan teknik (engineering).
Karena penerapan kegiatan teknik pada umumnya memerlukan investasi yang relatif besar dan berdampak jangka panjang terhadap aktivitas pengikutnya, penerapan aktivitas teknik tersebut menuntut adanya keputusan-keputusan strategis yang memerlukan pertimbangan-pertimbangan teknik maupun ekonomis yang baik dan rasional. Oleh karena itu, Ilmu Ekonomi Teknik sering juga dianggap sebagai sarana pendukung keputusan (Decision Making Support).
Keputusan yang baik dan rasional pada dasarnya memerlukan prosedur dan proses yang sistematis serta terukur dengan tahapan proses sebagai berikut :
2. Merumuskan tujuan penyelesaian masalah;
3. Mengumpulkan data-data yang relevan;
4. Klarifikasi, klasifikasi, dan validasi kebenaran data yang terkumpul;
5. Identifikasi alternatif pemecahan masalah yang mungkin;
6. Menetapkan kriteria pengukuran alternatif;
7. Menyusun atau menyiapkan model keputusan;
8. Melakukan evaluasi dan analisis terhadap semua alternatif yang disediakan;
9. Mengambil keputusan sesuai dengan tujuan;
10. Menerapkan keputusan yang telah diambil.
Dalam
menyiapkan alternatif perlu diperhatikan persyaratan berikut :
A. Jumlah alternatif yang ideal 2-10 alternatif, jika alternatif banyak perlu dilakukan seleksi bertingkat;
B. Memenuhi sifat mutually exclusive (tidak ada alternatif yang tumpang tindih);
C. Memenuhi sifat axhausive (semua kemungkinan alternatif yang tersedia telah terwakili).
A. Jumlah alternatif yang ideal 2-10 alternatif, jika alternatif banyak perlu dilakukan seleksi bertingkat;
B. Memenuhi sifat mutually exclusive (tidak ada alternatif yang tumpang tindih);
C. Memenuhi sifat axhausive (semua kemungkinan alternatif yang tersedia telah terwakili).
3.
Pengertian Proses Pengambilan
Keputusan
Proses pengambilan keputusan merupakan tahap-tahap
yang harus dilalui atau digunakan untuk mengambil keputusan, tahap-tahap ini
merupakan keragka dasar sehingga setiap tahap dapat dikembangkan lagi menjadi
beberapa sub tahap disebut langkah yang lebih khusus atau spesifik dan lebih
operasional.
Pembuatan keputusan ialah proses memilih
sejumlah alternatif. Pembuatan keputusan penting bagi administrator pendidikan
karena proses pengambilan keputusan mempunyai peran penting dalam memotivasi,
kepemimpinan, koordinasi, dan perubahan organisasi. Setiap level administrasi
sekolah mengambil keputusan secara hierarkis. Keputusan yang diambil
administrator berpengaruh terhadap pelanggan pendidikan terutama peserta didik.
Oleh karena itu, setiap administrator pendidikan harus memiliki keterampilan
mengambil keputusan secara cepat, tepat, efektif, dan efisien.
Prinsip
Pembuatan Keputusan
Pembuatan keputusan mengenal berbagai prinsip dasar sehingga baik dalam
tahapan perumusan maupun implementasinya pembuatan keputusan tersebut
memenuhi syarat sebagai alat manajemen yang dapat memberikan panduan bagi
anggota dalam bertindak dan berprilaku. Adapun Prinsip-Prinsip tersebut adalah
sebagai berikut:
1. Keputusan
pada dasarnya ditujukan untuk memecahkan masalah, karena itu setiap alternatif
solusi hendaknya tepat untuk masalah yang dituju.
2. Setiap keputusan hendaknya merupakan alternatif terbaik dengan resiko
yang amat minial.
3. Keputusan hendaknya sudah mempertimbangkan lingkup dan resiko secara
sistematik dan sistemik.
4. Keputusan
hendaknya tidak berada diluar zona
of acceptance manusia.
5. Keputusan
yang efektif adalah keputusan yang dapat dilaksanakan.
6. Keputusan hendaknya memecahkan masalah yang generik bukan masalah
yang oprasional teknis.
7. Pembuatan Keputusan terdiri dari tahap perumusan keputusan dan
implementasi keputusan.
8. Pembuatan keputusan hendaknya menghasilkan suatu hasil yang dapat
diukur.
9. Keputusan
tidak selalu harus dimulai dari data, tapi dari judgement.
Keseluruhan prinsip di atas dapat dijadikan dasar dalam setiap pembuatan
keputusan. Dengan menerapkan prinsip tersebut pembuat keputusan dapat terhindar
dari berbagai
kesalahan dalam menggunakan pembuatan keputusan. Ini mengandung arti bahwa
kekacauan manajemen yang acap kali disebabkan oleh pembuatan keputusan yang
tidak didasarkan kepada prinsip yang tepat dapat dihindari.
4.
Tahapan-tahapan dalam Proses
Pengambilan Keputusan, terutama dalam bidang engineering
Berhubungan
dengan tahap-tahap, tetapi lebih empiris (yaitu, menelusuri keputusan sebenarnya
dalam bidang engineering), adalah langkah pengambilan keputusan menurut
Mintzberg dan koleganya:
A.
Tahap
Identifikasi, dimana pengenalan masalah atau kesempatan muncul dan diagnosis
dibuat Diketahui bahwa masalah yang berat mendapatkan diagnosis yang ekstensif
dan sistematis, tep masalah yang sederhana tidak.
B.
Tahap
pengembangan, di mana terdapat pencarian prosedur atau solusi standar yang ada
as mendesain solusi yang baru. Diketahui bahwa proses desain merupakan proses
pencarian d percobaan di mana pembuat keputusan hanya mempunyai ide solusi
ideal yang tidak jelas.
C.
Tahap
seleksi, di mana pilihan solusi dibuat. Ada tiga cara pembentukan seleksi:
dengan penilainn pembuat keputusan, berdasarkan pengalaman atau intuisi, bukan
analisis logis; dengan analisis alternatif yang logis dan sistematis; dan
dengan tnwar-menawar saat seleksi melibatkan kelompok pembuat keputusan dan
semua manuver politik yang ada. Sekali keputusan diterima secara formal,
otorisasi pun kemudian dibuat.
5.
Analisis Pengambilan Keputusan
Analisis keputusan adalah pola berpikir
sistematis dalam pengambilan keputusan, yang bertujuan untuk mengidentifikasi
apa yang harus dilakukan, pengembangan kriteria khusus untuk mencapai tujuan,
mengevaluasi alternatif tindakan yang
tersedia yang berhubungan dengan kriteria dan mengidentifikasi kemungkinan
resiko yang melekat pada suatu keputusan tersebut.
Untuk mencapai beberapa sasaran antara
seperti yang telah diuraikan sebelumnya diperlukan adanya suatu keputusan
tidakan yang akan dilakukan dari beberapa alternatif. Untuk itu, dilakukan
analisis keputusan dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut :
> Merumuskan Pernyataan Keputusan
Tujuan merumuskan pernyataan keputusan adalah
untuk memusatkan perhatian pada tindakan yang terpilih dalam tahap
pengidentifikasian alternatif tindakan sebagai dasar untuk melaksanakan keputusan
yang akan ditempuh dalam usaha mengembangkan perusahaan.
> Menetapkan Kriteria Keputusan
Kriteria keputusan adalah kemampuan
memberikan gambaran mengenai suatu keadaan yang lebih terperinci tentang hasil
keputusan yang diambil. Tujuan penetapan kriteria adalah untuk menyaring
sejumlah alternatif lain yang pada akhirnya akan muncul satu alternatif
terbaik.
> Menetapkan Alternatif Keputusan
Alternatif keputusan adalah
kemungkinan-kemungkinan pilihan bagi pencapaian tujuan dari pernyataan
keputusan. Dari berbagai alternatif, akan dipilih yang terbaik berdasarkan
kriteria-kriteria yang ada. Pertimbangan pokoknya adalah mana yang paling
memenuhi kriteria dan paling kecil resikonya bila alternatif itu dijalankan.
> Menentukan Bobot Masing-Masing
Kriteria
Penentuan bobot berdasarkan besar-kecilnya
pengaruh kriteria terhadap alternatif keputusan. Semakin besar pengaruhnya maka
bobotnya lebih besar dan sebaliknya. Jumlah bobot untuk seluruh kriteria adalah
satu (1)
> Membuat Matriks Penilaian
Matriks penilaian bertujuan untuk
mengevaluasi alternatif-alternatif yang paling baik yang dapat memenuhi
sasaran. Dalam matriks ini digunakan sistem pembobotan, dimana kriteria dan
alternatif keputusan diberi bobot kemudian diperkalikan.
> Menentukan Tindakan Terpilih
Hasil perkalian antara kriteria dan
alternatif keputusan yang memiliki bobot tertinggi merupakan alternatif
prioritas. Alternatif yang menjadi prioritas merupakan tindakan terpilih untuk
mencapai sasaran utama.
6.
Proses Pengambilan
Keputusan
Setiap
kali manajemen memberikan pandangan sesuai dengan sudut tinjauannya. Oleh sebab
itu, banyak variasi tahap-tahap pembutan keputusan yang
muncul. Sedang P. Siagian dalam buku-nya “Sistem Informasi untuk
Pembuatan Keputusan” mengemukakan pendekatan bertahap dalam pembuatan keputusan
pada halaman 110. Pendekatan bertahap berarti sebelum keputusan di ambil, ada
langkah-langkah tertentu yang harus dilakukan terlebih dahulu.
Langkah-langkah tersebut meliputi:
1. Kegiatan-kegiatan
intellijen. Artinya menemukan situasi yang memerlukan kegiatan pembuatan
keputusan.
2. Design-activities,
yang berarti menemukan, mengembangkan, dan menganalisis tindak lanjut yang
hendak dicapai.
3. Kegiatan pemilihan, yaitu memilih
dari berbagai kemungkinan tindak lanjut yang menurut perhitungan merupakan
tindak lanjut yang paling tepat.
4. Pelaksanaan,
dalam arti pembuatan keputusan.
Dengan
menerapkan langkah-langkah tersebut di atas, maka secara sistematis diharapkan
akan memungkinkan seseorang membuat keputusan dengan tepat, cepat, praktis, dan
rasional.
7.
Proses Pemecahan Masalah
Pemecahan masalah adalah sebuah proses dimana
suatu situasi diamati kemudian bila ditemukan ada masalah dibuat
penyelesaiannya dengan cara menentukan masalah, mengurangi atau menghilangkan
masalah atau mencegah masalah tersebut terjadi. Ada banyak urutan proses
pemecahan masalah yang diajukan oleh para ahli, salah satunya seperti terlihat
pada Gambar 1.12.
Pada
gambar 1.12 terlihat serangkaian tahapan proses yang berbeda yang dapat
digunakan dalam berbagai tingkatan, tergantung dari tipe dan sifat masalahnya.
Masalah yang berbeda membutuhkan penggunaan cara yang berbeda, bahkan mungkin
urutan yang berbeda. Tahapan kritis dari proses pemecahan masalah adalah Pendefinisian
Masalah. Apabila masalah tidak cukup jelas didefinisikan maka
tahapan-tahapan berikut sulit untuk dijalankan. Bahkan apabila dipaksakan,
kemungkinan besar penyelesaian yang tepat tidak akan diperoleh.
Gambar 1.12. Proses pemecahan masalah
Secara
umum proses pemecahan masalah dapat dilakukan dengan empat tahapan utama yaitu
:
- Memahami dan mendefinisikan masalah
Bagian
ini merupakan bagian yang sangat penting karena menjadi awal dari seluruh
proses pemecahan masalah. Tujuan pada bagian ini adalah memahami masalah dengan
baik dan menghilangkan bagian-bagian yang dirasa kurang penting.
- Membuat rencana untuk pemecahan masalah
Pada
bagian ini ada dua kegiatan penting yaitu :
- mencari berbagai cara penyelesaian yang mungkin diterapkan
- membuat rencana pemecahan masalah
Penyelesaian
suatu masalah biasanya tidak hanya satu tapi mungkin bisa beberapa macam.
Sebagai ilustrasi, apabila kita berada di kota Surabaya dan ingin pergi ke
Jakarta, maka banyak cara yang mungkin bisa dilakukan, misalnya kita bisa
menempuh dengan angkutan darat, laut atau udara. Dengan angkutan darat kita
bisa menggunakan kereta api, bus atau angkutan yang lain. Jalurnya pun kita
bisa lewat jalur utara, tengah atau selatan. Jadi banyak sekali cara
penyelesaian yang bisa kita kembangkan. Masing-masing mempunyai karakteristik
sendiri-sendiri. Dari sekian banyak penyelesaian ini kita harus memilih satu
yang berdasarkan persyaratan tertentu merupakan cara yang paling baik untuk
menyelesaikan permasalahan. Setelah terpilih, maka kita dapat membuat rencana
kasar (outline) penyelesaian masalah dan membagi masalah dalam bagian-bagian
yang lebih kecil. Rencana kasar (outline) penyelesaian masalah hanya berisi
tahapan-tahapan utama penyelesaian masalah.
- Merancang dan menerapkan rencana untuk memperoleh cara penyelesaian
Pada
bagian ini rencana kasar penyelesaian masalah diperbaiki dan diperjelas dengan
pembagian dan urutan rinci yang harus ditempuh dalam penyelesaian masalah.
- Memeriksa dan menyampaikan hasil dari pemecahan masalah
Bagian
ini bertujuan untuk memeriksa apakah akurasi (ketepatan) hasil dari cara yang
dipilih telah memenuhi tujuan yang diinginkan. Selain itu juga untuk melihat
bagaimana daya guna dari cara yang dipilih yang dipilih.
Contoh Kasus Ekonomi Teknik dibidang Teknik ElektroSebuah perusahaan membeli sebuah Robot untuk mengefisiensi pembuatan barang, biaya perawatan dan perbaikan secara berturut-turut diantisipasi sebagai berikut Rp. 20.000.000 pada tahun ke 1, Rp. 5.000.000 pada tahun ke 5, RP. 8.000.000 pada tahun ke 10 dan Rp. 6.000.000 pada tahun ke 15.
Jika perusahaan memperkirakan akan menggunakan robot tersebut selama 20 tahun. berapa nilai rata-rata tahunan pada tahun terakhir dengan tingkat suku bunga 7%
Jawab :
F1= 20.000 k F3= 8.000 k
F2= 5000 k F4= 6.000 k
A = F1 (A/F1,i,n) + F2(A/F2,i,n) + F3 (A/F3,i,n) + F4 (A/F4,i,n)
A = F1 (A/F1,7%,19) + F2(A/F2,7%,15) + F3 (A/F3,7%,10) + F4 (A/F4,7%,5)
A = 20.000 (0,0268) + 5000 (0,0398) + 8000 (0,0724) + 6000 (0,1739)
A = 2357,6 k
Referensi
http://belajarekonomiteknik.blogspot.co.id/
https://ignasiusmicko.wordpress.com/2014/10/14/definisi-dan-ruang-lingkup-ekonomi-teknik/
http://haryono_putro.staff.gunadarma.ac.id/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar